Beranda > Konflik Satwa Liar > Pembukaan Lahan Picu Gajah Mengamuk

Pembukaan Lahan Picu Gajah Mengamuk

MEULABOH | ACEHKITA.COM — Amukan gajah liar di Kecamatan Geumpang, Pidie, sulit dihentikan, karena banyak warga yang membuka kebun baru di pegunungan dan menanam tanaman muda.

“Gajah itu mulanya turun mencicipi tanaman muda di kebun, terus ketagihan. Akhirnya mereka terus mencari ke bawah hingga sampai ke permukiman,” kata Kepala Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh Abu Bakar saat meninjau lokasi Conservasi Rescue Unit (CRU) di kawasan Sikundo, belantara Kecamatan Pante Ceureumen, Aceh Barat, Rabu (28/10).

CRU Sikondo baru dibangun pekan ini, untuk menanggulangi amukan gajah liar di pedalaman Aceh Barat. Lima ekor gajah jinak dari Saree (Aceh Besar) sudah ditempatkan di sana bersama mahoutnya serta para ranger.

Abu Bakar membantah selama ini pihaknya tak merespon serangan gajah yang meresahkan warga, khusunya di Bangkeh dan Pulo Loh, Geumpang.

BKSDA, kata dia, sudah bekerja menanggulangi amukan gajah di Geumpang. Namun, pihaknya mengakui, jarak CRU Mane dengan Bangkeh yang terpaut hingga 8 kilometer jadi kendala. Terlebih saat perlu mengerahkan gajah jinak yang ada di CRU. Gajah itu harus berjalan kaki dan butuh waktu berjam-jam.

Satu-satunya cara, kata Abu Bakar, warga harus menanam pohon jarak di kaki-kaki bukit. Pohon itu diyakini sangat dibenci oleh gajah. “Jadi kalau ada pohon itu gajah tidak mau mendekat,” ujarnya.

Selain itu menghentikan merambah rimba dan mereboisasi kembali hutan yang tandus. Terkait permintaan warga dibangun CRU di Bangkeh, sulit direalisasi.

Abu Bakar mengatakan, untuk membangun CRU tak mudah. Butuh kerjasama dengan sejumlah pihak, termasuk pemerintah dan dana tak sedikit. “Biaya operasionalnya saja Rp 1 milyar lebih setahun. Itu belum lagi pengadaan lokasi dan hal-hal lain seperti melatih gajah. Jadi tidak mungkin CRU dibangun disetiap kecamatan” jelasnya. Selama ini CRU digagas hanya di tiap kabupaten yang membutuhkan. Di Pidie, CRU sudah ada di Kecamatan Mane.

Hingga November ini, di Aceh baru ada tiga CRU, yakni di Pidie, pedalaman Sampoineit, Aceh Jaya dan terakhir di Sikundo, Aceh Barat. Abu Bakar mengatakan, BKSDA, Flora Fauna International (FFI) dan Pemerintah sedang menggagas pembangunan CRU di Aceh Besar dan Bireuen.

Di Aceh Besar rencananya dipusatkan di pedalaman Jantho, sedangkan di Bireuen di belantara Kecamatan Juli. Sementara Firman Hidayat dari FFI menyebutkan, selama ini dana untuk menghidupi CRU yang ada mayoritas donasi dari NGO luar negeri. Pihaknya berharap, Pemerintah Aceh dan kabupaten harus siap untuk mengelola CRU itu, jika ke depan tak ada dukungan dana lagi dari luar.[]

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: