Beranda > Ta Jaga Uteuen Ta Peliudong Ie > Hutan Kita Jaga, Air Terlindungi

Hutan Kita Jaga, Air Terlindungi

Firman Hidayat,

Assalamualaikum, dimana rumah Abu Sayed, tanya tim Information Officer FFI Aceh kepada salah seorang warga Desa Lamteungoh, Kecamatan Sampoiniet, Aceh Jaya. Tak jauh dari kedai itu, sahut Cek Din panggilan akrabnya. Hujan terus mengguyur, pukul 18.30 Wib, kami di sambut keluarga Abu Sayed di kediamannya. Duduk bersila diatas tikar sambil menatap satu persatu bingkai foto di dinding rumah Abu.

Meski baru pertama bertandang di kediaman Mukim Lanteungoh ini, Abu (62) menceritakan banyak hal tentang Ulu Masen. Tiba-tiba ia teringat masa kecilnya, cerita orang-orang tua, Ulu Masen itu adalah sebuah nama yang diambil dari nama sungai yaitu Krueng Masen. Sungai itu diapit oleh hutan yang lebat mengalir hingga Kabupaten Pidie dan Kabupaten Aceh Barat. Daerah aliran sungai itu pernah dilintasi oleh pasukan Teuku Umar, sang Pahlawan Nasional saat memerangi Belanda beberapa tahun yang silam.

Saat berhenti di salah satu sungai, tiba-tiba Teuku Umar sempat meminum air yang mengalir dari sungai itu. ”Airnya asin, lalu diberikanlah nama Krueng Masen”, kenang Abu Sayed. Bahkan Teuku Umar juga memberikan nama kawasan di situ yang kini dikenal dengan Desa Masen. Benar atau tidaknya, itu adalah cerita orang tua yang sudah mendahului kita. Tapi kini air yang mengalir di sungai itu sudah tidak asin lagi, namun ada di beberapa tempat saja yang masih dirasa asin.

Sambil menikmati secangkir kopi, di ceritakan lagi, dulu sungai itu banyak memberi harapan bagi masyarakat. Air bersih yang mengalir dari sungai itu menjadi urat nadi kehidupan penduduk yang tinggal di sepanjang DAS tersebut. Hampir sepanjang tahun sungai terlihat jernih. Terlebih saat pasang, bisa menyaksikan ikan-ikan kerling yang hilir mudik di sela-sela bebatuan. Bahkan sendok yang jatuh ke sungai pun bisa terlihat jelas hingga kedalaman satu meter. Air sungai itu juga bisa di minum, baik untuk kesehatan.

Tahun 1973 adalah tahun bencana besar di Sampoiniet. Bendungan air di Gunung Salak tiba-tiba jebol sehingga menghayutkan seluruh pemukiman yang berada di pinggiran hutan. Banjir bandang yang pernah terjadi itu telah banyak menimbulkan kerugian yang besar bagi masyarakat hutan. Kebun dan sawah hancur total, rumah-rumah lenyap dibawa air. Tahun itu adalah bencana terbesar di Kecamatan Sampoiniet”, ujar Abu. Kini bendungan itu sudah tidak ada lagi, namun peristiwa itu tak bisa dilupakan hingga masih mengikis kekhawatiran baru dalam menggapai kehidupan yang baru kedepan.

Pasca musibah itu, masuklah Hak Pengusahaan Hutan (HPH) yang mencabik-cabik pohon-pohoh kayu dalam hutan Sampoiniet. Tak lama beroperasi, HPH itu total berhenti karena konflik bersenjata memanas. Hingga sampai hari ini tidak ada lagi penebangan kayu di hutan Sampoiniet, Jika kemungkinan masih ada penebangan itu hanya dilakukan untuk kebutuhan masyarakat local saja”, tegas Abu.

Lain ikan, lain belalang, lain dulu, lain sekarang. Banyak perubahan terjadi di Kawasan Ulu Masen. Di musim hujan seperti itulah Krueng Masen menjadi berwarna coklat kekuningan. Bahkan tak jarang air meluap hingga membanjiri kemukiman penduduk yang berada di daerah hilir. Akan tetapi, bagi penduduk yang bermukim di sana, peristiwa alam berupa banjir tahunan semacam itu adalah hal biasa. Tak ada petaka, kerugian akibat banjir pun tak begitu berarti meski terkadang air meredam desa dan lahan persawahan hingga lebih satu minggu.

Akan tetapi, semua itu sudah cerita masa lalu, Krueng Masen kini sudah berubah fungsi sebagai urat nadi pertumbuhan. Air yang dulunya jernih hanya di beberapa tempat saja, bahkan di daerah hilir air yang jernih sukar di peroleh karena ketergantungan di daerah hulu. Tandan-tandan pisang, buah-buahan dan hasil bumi yang biasanya kerap di hilirkan kini sudah menjadi pemadangan langka. Semua aktifitas perekonomian rakyat itu seperti lenyap begitu saja, bagai tenggelam ke dasar Krueng Masen yang kian mendangkal.

Catatan sejarah tentang air bersih di Krueng Masen benar-benar hanya tinggal cerita. Banyak faktor yang mempengaruhinya, salah satunya adalah pengerukan galian di sungai, pencemaran limbah dan penebangan kayu. Jangankan melihat hamparan gemercik air yang bersih, sebagian warga bahkan tidak tahu kalau nenek moyang mereka dahulu adalah petani kebun yang menjaga hutan agar air bersih terlindungi.

Tentang DAS

Daerah aliran sungai (DAS) didefinisi sebagai suatu daerah yang dibatasi oleh garis ketinggian yang menerima, mengumpulkan air hujan, sedimen, dan unsur hara serta mengalirkannya melalui satu outlet. Komponen DAS meliputi hutan yang berfungsi sebagai recharge area, sumber air, sungai (hulu sampai hilir), dan daerah sekitar sungai.

Hutan, danau dan rawa merupakan tempat yang mempunyai fungsi untuk menahan dan menyerap air hujan sehingga cadangan air relatif akan stabil dari waktu ke waktu. Di lain pihak meningkatnya jumlah penduduk dan pembangunan ekonomi menyebabkan semakin meningkatnya tekanan terhadap lahan. Hutan semakin lama semakin berkurang karena berubah fungsi menjadi daerah permukiman, industri, dan pertanian.

Setiap aktifitas perencanaan dan pelaksanaan kegiatan di dalam sistem DAS harus mengacu pada suatu tujuan, yaitu menjaga kelestarian lingkungan untuk kemanfaatan bagi generasi sekarang dan generasi mendatang. Kelestarian lingkungan dalam sistem DAS mencakup kelestarian di hulu hingga hilir, artinya hutan, daerah tangkapan air, dan sistem sungai berfungsi dengan baik dan dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat.

Sistem DAS mempunyai arti penting dalam hubungan ketergantungan antara hulu dan hilir. Perubahan komponen DAS di daerah hulu akan mempengaruhi komponen DAS pada daerah hilir. Kerusakan hutan di hulu akan berpengaruh pada kondisi sungai di hulu hingga hilir. Keterkaitan yang kuat antara hulu dan hilir ini melahirkan gagasan untuk mengembangkan suatu indikator yang mampu menunjukkan kondisi DAS. Indikator ini harus dengan mudah dapat dilihat oleh masyarakat luas sehingga dapat digunakan sebagai instrumen pengawasan terhadap pelaksanaan pembangunan di wilayah DAS. Salah satu indikator yang dapat dikembangkan adalah indikator kualitas air di sungai. Dengan melihat kondisi kualitas air sungai, dapat diketahui kondisi hulu sungai, seperti kondisi hutan dan daerah sekitar sungai di hulu.

Kualitas air sungai tergantung pada kondisi di daerah hulu dan daerah yang dilewati oleh aliran sungai. Pencemaran yang terjadi di air sungai pasti disebabkan oleh sumber pencemaran di daerah tersebut. Dari daerah tangkapan hujan dan daerah hulu, pencemaran dapat berasal dari humus di hutan, erosi di daerah hutan dan hilir sungai, pengalihan lahan hutan ke pertanian. Dari daerah di sepanjang aliran sungai, pencemaran berasal dari pembuangan air limbah domestik, limbah pertanian, dan limbah industri.

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: