Beranda > Guru Yang Baik > Guru Yang Baik Atau Tidak Sama Sekali

Guru Yang Baik Atau Tidak Sama Sekali

2 Desember 2009

Oleh : Firman Hidayat

Guru yang profesional tidak hanya tahu akan tugas, peranan dan kompetensinya namun juga dapat melaksanakan apa-apa yang menjadi tugas dan peranannya, dan selalu meningkatkan kompetensinya agar tercapai kondisi proses belajar mengajar yang efektif dan tercapai tujuan belajar secara optimal. Guru yang profesional selalu belajar dan belajar untuk mengembangkan profesinya, tiada hari tanpa belajar.

Sebagai guru yang baik dengan tingkat kesejahteraan yang masih rendah maka seharusnya tidak usah berkeluh kesah, dan menurunkan semangat kerja. Sebagai orang-orang yang berpendidikan seharusnya guru dapat mengatasi persoalan ekonomi baik secara individual maupun secara kooperatif. Guru membekali dirinya dengan kemampuan untuk berwirausaha.

Guru tidak boleh mengorbankan pelajar karena sedang ada bisnis. Kewajiban utama tetap dikedepankan, baru sisa waktu (waktu luang) untuk kerja sambilan. Sebab jika guru terlalu berorientasi pada upaya penumpukan materi (kekayaan) dikhawatirkan akan melalaikan fungsi guru sebagai pendidik. Kekhawatiran akan fungsi guru bukan lagi pendidik telah terbukti, akhir-akhir ini jumlah tenaga guru semakin sedikit, sebaliknya jumlah pengajar terus membengkak. Menurut Menteri Pendidikan Nasional dalam sambutan pelantikan rektor Universitas Surabaya (Unesa) di Surabaya mengatakan :”Indonesia saat ini minus tenaga guru, yang banyak adalah tenaga pengajar. Dia bekerja per jam, dan setiap jam minta bayaran”. Guru, menurut Malik Fadjar, lebih dari sekedar pengajar. Guru merupakan pusat teladan dan panutan. Guru punya pengaruh terhadap siswanya (Republika, 2002). Jika demikian apakah ada jaminan jika kesejahteraan guru ditingkatkan maka mutu guru menjadi baik ?.

Membenahi realitas ini tidaklah mudah. Guru harus memiliki komitmen yang sangat kuat dalam bidang tugasnya. Selain itu, guru juga harus memiliki landasan pedagogis yang sangat kuat. Lebih dari itu, guru harus memiliki kepribadian sebagai insan yang secara konkret dapat dijadikan acuan oleh siswa dalam menemukan contoh pribadi yang memiliki religiusitas, moral dan etika. Personafikasi guru yang demikian diharapkan akan berdampak pada adanya jalinan pikir, rasa dan hati. Lebih lanjut, pendidikan tidak sekadar dimaknai sebagai transfer ilmu pengetahuan tetapi juga pemindahan rasa dan jalinan hati. Tentu saja guru pun harus punya pribadi yang diteladani. Sebaik-baik teladan bagi Muslim adalah Nabi Muhammad SAW dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan. Bermuara pada satu resep yang sangat jitu, dalam Hadist disebutkan, beliau menyuruh sesuatu yang sudah dikerjakan dan menjauhi apa yang dilarangnya. Kata kuncinya ialah bersatunya kata dan perbuatan.

Semoga dengan ini guru menjadi penjaga moral atau kekuatan moral yang sangat kokoh. Apa yang diharapkan dari seorang guru untuk menghadapi tantangan era global, era otonomi daerah dalam merealisasikan program pemerintah dalam bidang pendidikan?. jawabannya hanya sederhana : ” Menjadi guru yang baik, atau tidak sama sekali”. Tidak ada diantara kita yang dipaksa menjadi guru yang ada hanya terpaksa menjadi guru dan secara sukarela menjadi guru. Apapun itu yang penting untuk menjadi guru maka tugas mulia ini mesti dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab dan pengabdian. Guru yang baik diharapkan untuk menjadikan dirinya secara profesional, dan untuk mendapatkan guru yang profesional merupakan suatu keharusan.

Mohammed Uzer Usman (2000) mengemukakan tiga tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar dan melatih. (1) mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup, (2) mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan, (3) melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan pada siswa. Untuk dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawab diatas, seorang guru dituntut memiliki beberapa kemampuan dan keterampilan tertentu. Kemampuan dan keterampilan tersebut sebagai bagian dari kompetensi profesionalisme guru. Kompetensi merupakan suatu kemampuan yang mutlak dimiliki oleh guru agar tugasnya sebagai pendidik dapat terlaksana dengan baik. Untuk meningkatkan mutu pendidikan secara formal aspek guru mempunyai peranan penting dalam mewujudkannya, disamping aspek lainnya seperti sarana dan prasarana, kurikulum, siswa, manajemen, dan pengadaan buku.

Guru merupakan kunci keberhasilan pendidikan, sebab inti dari kegiatan pendidikan adalah belajar mengajar yang memerlukan peran dari guru di dalamnya. Citra atau mutu guru saat ini sering didengung-dengungkan dan dibicarakan orang baik yang pro dan kontra dan semakin lama citra guru semakin terpuruk. Masyarakat sering mengeluh dan menuding guru tidak mampu mengajar manakala putra-putrinya memperoleh nilai rendah, rangkingnya merosot, atau NEM-nya anjlok. Akhirnya sebagian orang tua mengikut sertakan putra/putrinya untuk kursus, privat atau bimbingan belajar. Pihak dunia kerja ikut memprotes guru karena kualitas lulusan yang diterimanya tidak sesuai keinginan dunia kerja. Belum lagi mengenai kenakalan dan dekadensi moral para pelajar yang belakangan semakin marak saja, hal ini sering dipersepsikan bahwa guru gagal dalam mendidik anak bangsa.

 Oleh karena itu usaha untuk meningkatkan mutu atau citra guru salah satu komponen yang berperan adalah meningkatkan profesional guru yang bercirikan : menguasai tugas, peran dan kompetensinya, mempunyai komitmen yang tinggi terhadap profesinya, dan menganut paradigma belajar bukan saja di kelas tetapi juga bagi dirinya sendiri melakukan pendidikan berkelanjutan sepanjang masa. Setelah lahirnya Undang-Undang Guru dan Dosen melalui UU Nomor 14 Tahun 2005, secara legal formal guru dan dosen menjadi profesi yang sangat diharapkan dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Kualitas pendidikan tentu bermuara pada kualifikasi sumber daya manusia, baik secara fisikal (kesehatan), psikologikal (mental), intelektual, afektif (sikap dan etik), termasuk spiritual (nilai-nilai religius).

Tugas bagi guru jika ditilik dari dimensi ini tentu menjadi sangat berat. Guru selain berhadapan dengan tantangan eksternal, berupa kecenderungan pola pandang masyarakat yang serba materialistis, juga dihadapkan dengan tantangan internal, yakni tuntutan kebutuhan pribadi yang merupakan dampak iringan dari pola pandang yang berubah dari masyarakat. Alih-alih kegalauan ini bersemayam pada diri guru, tuntutan atas peran dan fungsi guru tetap kuat yaitu sebagai profesi yang ideal. Hal ini dibuktikan dengan keharusan guru memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional.

 Syarat kepemilikan empat kompetensi itu bukanlah persoalan mudah manakala dimaknai tidak sekadar berdimensi teoretis, tetapi lebih pada dimensi praksis. Kompetensi pedagogik mengharuskan guru memiliki jiwa pendidik yang mendarah daging. Artinya, nilai-nilai pendidikan tidak sekadar dihafal secara teoretis, tetapi telah menjadi bagian dari perilaku dirinya. Begitu pula dengan kompetensi kepribadian, mengisyaratkan adanya kepemilikan pribadi yang paripurna (insan kamil). Dengan demikian, diharapkan pribadi guru menjadi personifikasi nilai-nilai, bukan sekadar kamuflase, sehingga menjadi contoh nyata yang dapat diteladani siswa. Kompetensi sosial tentu bermakna lebih luas lagi.

Guru dituntut mampu berperan maksimal dan ideal dalam berbagai tatanan pergaulan dengan berbagai kalangan dan variasi pandangan. Kompetensi profesional mengarah pada bidang profesi sehingga relatif mudah mengukurnya mengingat indikatornya relatif jelas, yakni diukur dari kadar kemampuan menyangkut bidang profesinya. Misalnya, guru Bahasa Inggris harus mampu membuat desain pembelajaran bahasa Inggris, mengajarkannya, mengadakan pengamatan proses, dan mengevaluasinya

Iklan
Kategori:Guru Yang Baik
%d blogger menyukai ini: