Beranda > Bencana di Ulu Masen > Sungai Yang Sering Marah

Sungai Yang Sering Marah

Menelusuri DAS Teunom

SYAMSUDDIN (60 tahun) tiba-tiba teringat masa kecilnya. Petani yang tak memiliki sepetak pun lahan persawahan di kampungnya itu menatap lepas ke seberang Krueng Teunom, Aceh Jaya. Sesekali ia menggelengkan kepala, sembari duduk di tepian sungai yang kini tak lagi memberinya harapan.

Seingatnya pada tahun 1975 lalu, Sungai (Krueng) Teunom yang berhulu dari celah-celah batu di kawasan Geumpang, Kabupaten Pidie pernah marah. Banjir besar terjadi kala itu, meluluh-lantakkan seluruh sarana dan prasarana penduduk di beberapa desa Kecamatan Teunom.

Kisah itu disampaikan kepada saya pada akhir Januari 2010 lalu. Saat saya bergabung dalam sebuah tim ekspedisi untuk menjajal dan menelusuri Daerah Aliran Sungai (DAS) Teunom, Aceh Jaya. Sungai ini menjadi urat nadi kehidupan penduduk yang tinggal di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) tersebut. Dalam ekspedisi, kami berperahu selama dua hari, menerobos malam, melihat berbagai situs dan mengamati kondisi lingkungan, merekamnya dalam gambar dan cerita.

Pukul 06.00 WIB, 30 Januari 2010. Tim berkemas-kemas untuk menelusuri Daerah Aliran Sungai (DAS) Teunom. Di bawah terik matahari tim bersama Panglima Uteuen, Pawang Krueng dan beberapa tokoh masyarakat sedang menunggu boat dan jalo tradisional di tepi sungai Desa Sarah Raya, Kecamatan Teunom, Aceh Jaya.

Beberapa menit kemudian, tim menelusuri DAS Teunom dengan mengunakan boat. Destinasi alam menantang yang patut disambangi. Lensa kamera tertuju ke arah tebing-tebing tinggi yang membentang di hamparan sungai. Arus deras menghadang dan memperlambat gerakan boat berkekuatan 25 PK dan 40 PK. Kami terus bergerak hingga mencapai lokasi air terjun, kerap disebut Ceurace Embun. Jaraknya sekitar dua jam perjalanan dari kemukiman pendudukan di Desa Sarah Raya.

Sepanjang perjalanan, air sungai terlihat jernih, terlebih saat berada di tumpukan batu koral pada arus deras. Ikan-ikan mudah terpantau di sela-sela bebatuan. Biasanya air akan keruh, saat menjelang banjir musiman, ditandai dengan hujan yang menguyur deras selama berhari-hari. Lalu sungai meluap.

Sampai di Ceurace Embun, rombongan turun beristirahat dan memasang tenda. Sambil menikmati sungguhan kopi dan ikan kerling panggang. Rombongan mengatur strategi untuk proses pengambilan gambar. Bersahaja dan terlihat akrab. Malam pun tiba, cuaca semakin dingin, kutu-kutu pasir bangun mencari makanan, tikus sungai pun sempat mengundang perhatian. Suara air terjun bak hujan deras yang tak pernah berhenti. Usai pengambilan gambar dan wawancara, rombongan pulas tertidur. Ada yang tidur di tenda dan ada yang tidur terbentang di atas pasir sungai. Sungguh melelahkan.

Esok harinya, tim mulai bersiap-siap mengambil gambar sambil menikmati kopi dan indomie. Tim kembali berkompromi untuk strategi pengambilan gambar. Hari ini kelompok di bagi dua, satu tim menuju ke lokasi yang berarus deras yang sering disebut warga kawasan Batee III. Sementara satu tim lagi menunggu di Ceurace Embun sambil melakukan wawancara dengan warga.

Banyak kisah yang diceritakan masyarakat terhadap DAS Teunom ini. Bencana besar pada tahun 1975 lalu terjadi secara tiba-tiba. ”Tak ada yang menyangka banjir akan datang,” kata Syamsuddin, Mukim Sarah Raya.

Setelah tahun bencana itu, saat musim hujan, sungai selalu mengirim airnya ke pemukiman warga. Air yang menggelontor di kedua sisi DAS Teunom menimbulkan erosi, bersamaan dengan itu sungai pun dipenuhi batang dan ranting-ranting pohon yang ikut hanyut mengalir. Bahkan kayu log besar pun terdampar di bawa banjir.

Di musim hujan, Krueng Teunom menjadi coklat kekuningan. Pemukiman penduduk di daerah hilir, seperti Gampong Pasie Timon dan Pasie Geulima menjadi tempat singgah air yang meluap. Banjir sudah menjadi kebiasaan bagi warga di sepanjang DAS Teunom itu.

Kerugian akibat banjir tak diperdulikan lagi, meski kadang air merendam desa dan lahan persawahan sampai berhari-hari. Warga biasanya membangun rumah model panggung dan berlantai dua, sesuai dengan kondisi sungai yang sering banjir.

Penilaian Syamsuddin, awal dari kemarahan sungai yang sering banjir itu disebabkan oleh terpuruknya hutan di kawasan hulu karena aktifitas penebangan liar. Buktinya saban banjir datang, tumpukan kayu log besar selalu hanyut dibawa air sungai hingga ke hilir. Ada juga potongan kayu-kayu yang terdampar di ranting-ranting pohon. Proses penebangan liar masih saja berlanjut hingga kini.

Menurutnya hulu DAS Teunom ini puncaknya dari Geumpang, Kabupaten Pidie. Jika kawasan hutan di daerah hulu rusak maka dampak bencananya akan dirasakan daerah hilir di Kecamatan Teunom Aceh Jaya. DAS Teunom ini berasal dari sub DAS Krueng Geumpang, Krueng Sikuleh dan Krueng Beutong yang mengairi tiga kabupaten di Aceh; Pidie, Aceh Barat dan Aceh Jaya.

Masih pagi, saat kami sedang asyik menikmati rimbun pohon di kiri dan kanan sungai. Tiba tiba kami dikejutkan dengan suara dentuman keras dari arah pergunungan. Satu kayu besar sedang tumbang setelah ditebang. Illegal loging masih terus terjadi hingga kini, sampai sungai marah dan mengirim banjir, saban musim hujan.

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: