Beranda > Bencana di Ulu Masen > Cerita Bencana Ulu Masen

Cerita Bencana Ulu Masen

BERKUNJUNG ke desa-desa di sekitar hutan Ulu Masen, berbagai persoalan lingkungan akan terlihat jelas. Masa lalu yang buruk misalnya, telah menjadikan kawasan di Kecamatan Sampoiniet, Kabupaten Aceh Jaya selalu mendapat bencana. Banjir kerap singgah di sana.

Di kaki hutan Ulu Masen itu, Desa Teupin Hasan pernah tenggelam usai banjir besar-besaran. Desa yang yang kini dipimpin oleh Geuchik Idris Amin, 37 tahun, seluruhnya menjadi rawa-rawa akibat ditenggelamkan bencana banjir pada tahun 70-an.

Tidak ada yang mengetahui persis penyebab terjadinya banjir besar di sana. Namun banyak warga menyebut karena hutan sengaja digunduli oleh PT Aceh Inti Timber (AIT) ketika operasinya masih lancar. Izin HPH yang dikeluarkan pihak terkait telah membuat ratusan jiwa kehilangan tempat tinggal, bahkan perkebunan serta lahan pertaniannya kini tampak seperti hamparan sawah yang tidak terurus di Desa Teupin Asan.

Beberapa warga yang ketika bencana alam itu terjadi, kini menjadi pemuka gampong di Desa Masen, maupun di Desa Teupin Hasan. Dari merekalah diperoleh informasi pembalakan liar dahulu.

Suka dan duka sebelum tahun 1970 kini tinggal kenangan. Rangka rumah yang dibangun puluhan Kepala Keluarga (KK) kini telah membusuk di tengah rawa-rawa. Tiang rumah yang rubuh dibaluti benalu pepohonan menjadi saksi bisu, ketika kawasan hutan Ulu Masen dirampas demi kepentingan beberapa pihak.

Tidak ada larangan dari siapapun, termasuk pemerintah saat itu tentang pembalakan hutan secara besar-besaran. Bahkan izin tertulispun dikeluarkan pihak terkait, sehingga pegundulan hutan seolah-olah menjadi perintah pengusaha ‘berdasi’. Saat hutan ditebang, masyarakat juga dijadikan buruh kasar serta menjadi tenaga kerja para dalang pembalak. Warga menduga, pekerjaan itu dapat mengalihkan perhatian penduduk tentang hutan yang digundul.

Puluhan tahun hutan terus ditebang dan diangkut ke luar negeri melalui jalur laut. Akibatnya, banjir berkepanjangan terus terjadi di beberapa desa dalam kawasan hutan Ulu Masen, termasuk Desa Masen yang kini dipimpin Geuchik Fadlisyah. Bencana tahunan tak dapat dielakkan. Diperkirakan, daya tampung air di gunung semakin rendah, sehingga membuat desa tersebut tenggelam.

Kepala Desa Teupin Asan, Idris Amin mengisahkan ketika banjir melanda wilayah itu terjadi pertama kali pada siang hari. Tidak diketahui apakah ada korban jiwa atau tidak. Namun sepekan setelah bencana banjir terjadi, desa mereka menjadi hamparan laut. Ratusan hektar lahan kopi dan coklat serta pinang rata tanah, kecuali hanya beberapa batang saja yang tersisa, kini terpancang di tengah rawa-rawa.

Saat itu, tidak kurang dari 70 Kepala Keluarga (KK) yang bermukim di sana pindah ke kaki Gunung Sala (sebuah kawasan di ujung Desa Teupin Asan). Kehidupan warga di sana harus kembali ke angka nol. Ladang kopi sebagai bekal sudah tiada. Rumah sebagai tempat berteduh, hancur. Suasana di sana saat itu tidak lebih dari sebuah kawasan bekas hantaman tsunami.

Warga kemudian kembali menjejaki kehidupannya. Pendapatan ekonominya semakin sulit. Namun pembalakan hutan masih terus dilakukan para pembalak. sejak tahun 70-an hingga 2003, warga hidup di kaki gunung tersebut. Sejak darurat Militer (DM) diterapkan di Aceh, 70 KK eksodus ke Desa Babah II. Tidak hanya Desa Teupin Asan, namun puluhan KK lainnya yang bermukim di Desa Masen, juga meninggalkan desanya secara mendadak.

Tidak kurang dari satu setengah  tahun warga mengungsi. TNI/Polri ketika itu keluar masuk kampung mencari anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM), kontak senjata sering terjadi. Tidak ada warga yang berani kembali ke desa. Sebagian dari mereka juga memilih meninggalkan kawasan itu menuju Kota Calang (Pusat Ibukota Aceh Jaya).

Pascatsunami dan konflik berakhir, berangsur warga kembali. Desa Masen menjadi tempat persinggahan penduduk Desa Teupin Asan. Tidak kurang dari 36 KK warga Teupin Asan kini menetap di Desa Masen.

Tenggelamnya Desa Teupin Asan menjadi pengalaman berharga bagi Desa Masen. Banjir kerap mereka rasakan, bahkan delapan kali setiap tahun. “Masyarakat sebenarnya masih ingin kembali ke desanya, tapi rumah tidak ada,” sebut Idris Amin.

Rabumah, 83 tahun ketika dimintai keterangannya terkait banjir yang melanda perkampungan itu, mengatakan banjir setiap tahun yang melanda Desa Masen, telah membuat desa warga tidak dapat beraktivitas secara normal. “Kami berharap ada perhatian pemerintah di sini,” ujarnya.

“Hentikan penebangan liar, karena ini dapat berakibat fatal,” ujar Tgk M Basyah, tokoh masyarakat Masen. Dia mengaku, banjir yang berkepanjangan terjadi tidak lebih dari ulah manusia.

Pengalaman buruk di Desa Masen dan Teupin Hasan, membuat beberapa lembaga tergerak untuk penyelamatan lingkungan. Fauna Flora International (FFI) Aceh melalui tema ‘Uteun Tajaga Rakyat Aceh Makmu Beusare’ terus melakukan kampanye peletarian alam. Setidaknya menumbuhkan harapan bagi kawasan Ulu Masen untuk bebas penebangan liar.

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: