Beranda > Konflik Satwa Liar > Sebab Terjadinya Konflik Satwa

Sebab Terjadinya Konflik Satwa

“AYAH ke hutan belah kayu,” jawab polos seorang bocah asal Desa Krueng Ayon, Kecamatan Sampoiniet, Aceh Jaya, awal Januari lalu. Tidak disangka anak berusia 10 tahun itu terjebak dengan sebuah pertanyaan dari kami, saat meliput di kaki rimba raya pedalaman Aceh Jaya itu.

Dari jawaban Hadi, nama anak bangku sekolahan dasar itu, sedikit terbongkar aktifitas pembalakan liar yang semakin merajalela di hutan kawasan Ulu Masen. Bahkan, saat dikaji lebih dalam, masyarakat juga memberi isyarat bahwa hutan Ulu Masen masih menjadi sasaran petani lokal sebagai sumber ekonominya.

Akibatnya, bertahun-tahun, konflik satwa liar kian menjadi-jadi di sana. Gajah liar yang mengamuk di kaki hutan Ulu Masen khususnya Desa Masen dan Krueng Ayon, menjadi cerita yang biasa. Belum lagi Harimau Sumatera yang kerap masuk ke lokasi pemukiman.

Satwa liar di sana masih menganggu warga. Puluhan hektar lahan kebun milik petani setempat serta puluhan rumah menjadi sasaran gajah liar yang turun dari hutan kawasan Ulu Masen. Gangguan itu makin menjadi-jadi akibat habitat satwa liar itu telah diusik sejak puluhan tahun yang silam.

Pembukaan lahan baru serta izin HPH yang secara besar-besaran telah membuat hewan liar itu turun gunung. Tak terkecuali, hingga kini gangguan tersebut masih terus dirasakan penduduk di Desa Masen dan Desa Teupin Asan. “Sebelum adanya CRU, kami amat sulit bercocok tanam, karena gangguan satwa liar kian parah di desa kami,” sebut Hamdi seorang warga, belum lama ini.

Dikisahkan, keganasan gajah di perkampungan membuat ekonomi masyarakat terjepit. Diperkirakan, perambahan hutan secara besar-besaranlah yang secara otomatis membuat satwa liar terusik. Lintasan jalan gajah yang kini dijadikan lahan perkebunan sawit warga telah membuat gajah terganggu. Hamdi mengatakan, pelaku perambahan hutan yang disinyalir petani lokal yang di back-up pengusaha kayu masih marak di sana.

Bicara soal Desa Masen, Kecamatan Sampoiniet, seolah telah menguraikan kondisi Hutan Ulu Masen, yang notabenya kini di bawah pengawasan Fauna Flora Internasional (FFI) Aceh. Kondisi kawasan yang begitu luas, sedikitnya tergambar di Desa Masen.

Lingkungan desa tersebut beberapa tahun yang silam pernah tenggelam akibat bencana banjir besar yang melanda wilayah itu. Puluhan hektar lahan kopi kini tak tersisa lagi. Banjir akibat abrasi sungai di desa tersebut terjadi tahun 1985. Padahal melalui tanaman kopi itulah masyarakat telah memenuhi kebutuhan hidup, meski di kaki gunung. Kualitas kopi rakyat di sana terkenal sampai ke luar negeri.

Mengamuknya gajah liar dan mengganasnya harimau beberapa waktu lalu di Desa Masen dan sekitarnya telah melenyapkan penghidupan warga masyarakat. Pembalakan liar secara terang-terangan disyaratkan kini menjadi secara tersembunyi. Moratorium loging yang telah dikeluarkan Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, seolah tidak berlaku di sana. Diduga kuat, selain tidak terpantau oleh pihak keamanan, pengawasan lingkungan hutan Ulu Masen dari pihak terkait juga lemah.

Majid M, 47 tahun, seorang korban amukan gajah liar beberapa waktu lalu mengatakan, akibat amukan puluhan ekor gajah secara membabibuta, rumahnya hancur. Kejadian yang terjadi pada akhir 2008 lalu, menyisakan kenangan pahit bagi dirinya. Majid dan beberapa tetangganya harus mengungsi ke desa tetangga.

Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Aceh Jaya, Mukhtaruddin mengatakan, pihaknya selama ini tidak tinggal diam mendapatkan informasi terkait perambahan hutan. Menurutnya, meski dalang pembalak liar belum pernah ditangkap oleh Keamanan Hutan (Pamhut), namun personel Pamhut tetap melakukan patroli rutin di beberapa titik dalam wilayah kerjanya.

Mukhtaruddin mengharapkan, masyarakat di kawasan hutan Ulu Masen, khususnya di Kabupaten Aceh Jaya dapat meningkatkan kesadaran terhadap lingkungan. Rakyat diharapkan peduli terhadap lingkungan dan dapat menjadikan pengalaman masa lalu sebagai pedoman hidup di masa yang akan datang. “Tingkatkan kesadaran betapa pentingnya lingkungan dan hutan,” sebutnya.

DESA MASEN punya sejarah sendiri, terisolir dan jauh dari perhatian. Sekitar tahun 70-an, di daerah itu hanya ada belasan rumah. Penduduk di sana bertambah seiring berjalannya masa. Ketika itu rata-rata mata pencarian warga berladang dan berkebun. Tahun 1990 sampai sebelum diberlakukannya Daerah Operasi Militer (DOM) suasana di sana masih aman.

Perlahan penduduk makin padat. Bahkan hingga kini tercatat 94 kepala keluarga (KK) atau sebanyak 85 rumah resmi menjadi penduduk Desa Masen. Pascakonflik masyarakat di Desa Masen dapat kembali membangun hidup baru di antara lembah gunung yang terdapat di sekitarnya.

Melihat Masen sama artinya telah masuk dalam kawasan hutan Ulu Masen. Kawasan itu belakangan aman dari penebangan hutan secara besar-besaran. Tidak diketahui secara pasti berapa tahun hutan Masen ditebang dan diekspor ke luar Aceh.

Penduduk Desa Masen mulai ramai sejak 1980-an. Menurut beberapa warga, siapapun yang masuk ke Desa Masen langsung menetap di sana dan tidak lagi kembali. “Kadang mereka yang datang jodoh di sini dan langsung kawin. Kebanyakan seperti itu,” kata Ubaidillah, Imum Desa Masen.

Kata yang sama diutarakan Nurdin, tokoh masyarakat setempat. Masyarakat Masen sempat ramai memasuki tahun 1998. Namun ketika konflik berkecamuk di Aceh, satu persatu masyarakat pindah ke luar dari Masen. Meski mulai terusik, namun kawasan Masen kini masih banyak menyimpan rahasia alam yang tak kalah pentingnya dari daerah lain.

Hutan yang lebat, aliran sungai yang mengelilingi kawasan Masen masih alami. Apalagi melihat kawasan itu bersambung dengan gunung lain yang masuk dalam Kabupaten Aceh Besar, Aceh Barat, Pidie Jaya dan beberapa kawasan lainnya. “Luar biasa, kawasan ini sungguh menakjubkan. Inilah kekuasan Tuhan,” sebut Fadlisyah, Geuchik Desa Masen.

Adat istiadat Aceh yang masih melekat terus menjadi kebiasaan masyarakat yang bermukim di kaki gunung Ulu Masen. Ekonomi masyarakat yang belum berkembang di sana menjadi sebuah kekhawatiran, akan terjadi lagi pengrusakan. Meski demikian, dengan ditutupnya izin bagi pemegang HPH, menjadi sebuah jaminan baru terhadap keselamatan kawasan Ulu Masen.

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: