Beranda > Ulu Masen Terancam > Ulu Masen Terancam Punah

Ulu Masen Terancam Punah

HUTAN Ulu Masen kian gundul. Tangan-tangan jahil terus merambah dan merusak kawasan alam yang luasnya mencapai 738.866 hektar atau setara 20,81 persen dari luas wilayah hutan di Provinsi Aceh.

Kabarnya tidak hanya penduduk setempat yang menebang hutan itu dengan berbagai kepentingan, namun pihak luar juga ikut ambil alih dalam membabat hutan Ulu Masen di berbagai titik yang tersebar dalam beberapa wilayah di Provinsi Aceh, yakni Kabupaten Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Barat dan Pidie serta Kabupaten Pidie Jaya.

Sebelum tahun 1970 rimba raya di pantai barat dan pantai selatan itu sama sekali tidak ada yang mengganggu. Jangankan ditebang, untuk papan rumah sekalipun jarang ada yang mengolahnya, apalagi diangkut ke luar Aceh maupun dijadikan ajang bisnis mancanegara melalui perairan laut.

Hal tersebut terbukti, beberapa bulan sebelum tsunami mengepung Aceh, 26 Desember 2004 lalu, beberapa titik pintu kuala di pantai barat menjadi jalur transaksi kayu. Bertahun-tahun hutan digundul. Siapa pelaku tidak ada yang mengetahui persis, namun yang jelas masyarakat setempatpun ikut ambil alih dalam posisi sebagai pekerja.

Ketika konflik Aceh mulai mengemuka tahun 1998, permainan illegal logging mulai kendur. Meskipun ada itu hanya dilakukan oleh pengusaha berduit (milioner). “Sebelum konflik hutan sudah ditebang, bahkan dengan masuknya HPH pengundulan secara terang-terangan terus terjadi,” ujar Nurdin, tokoh masyarakat Masen.

Informasi yang berhasil dihimpun dari sejumlah sumber di kawasan hutan Ulu Masen menyebutkan, hutan Ulu Masen yang begitu luas sulit dideteksi gundul. Karena selain tidak ada pihaknya yang berani turun memantau hutan Aceh, masyarakat pun banyak yang mengungsi menyelamatkan diri dari konflik akibat pertikaian yang terjadi antara TNI/Polri dengan pasukan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Pasca MoU Helsinki 15 Agustus 2006 lalu, hutan Ulu Masen mulai terpantau oleh berbagai pihak. Termasuk Pemerintah Aceh di bawah kendali Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf. Bahkan gubernur mengeluarkan moratorium loging untuk menyelamatkan hutan di Aceh.

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) ikut lokal mengawasi kawasan itu, dibantu sejumlah NGO asing. Sebuah organisasi bernama Fauna Flora Internasional (FFI) Aceh juga ikut melestarikan kawasan tersebut. Hutan Ulu Masen kini mulai terbebas dari pembalakan liar yang sebelumnya merajalela. Banjir besar-besar yang sebelumnya saban tahun terjadi di sana, terutama kawasan Desa Masen, namun tahun 2009 bencana alam itu sama sekali tidak datang lagi.

“Biasanya setiap tahun, enam hingga delapan kali banjir terjadi, namun entah kenapa belakangan mulai tidak ada lagi. Dan ini patut kita syukuri,” ujar Fadlisyah, Geuchik Gampong Masen yang meminpin 90 Kepala Keluarga (KK).

Desa yang memiliki 360 jiwa itu terletak persis di kaki hutan Ulu Masen. Masyarakat yang sehari-hari berprofesi sebagai petani itu juga disinyalir ikut terlibat dalam pembalakan liar dulunya. “Masyarakat di sini dulunya memang melihat hutan sebagai sumber ekonomi, bukan hanya ditebang melulu, namun setelah hutan bersih lahan itu dijadikan kebun,” ungkap Zulfikar, Geuchik Gampong Krueng Ayon.

Kondisi parah terjadi saat pemberian izin HPH kepada PT Aceh Inti Timber. Perusahaan itu  telah membuat hutan terus ditebang. Masyarakat yang keenakan mencari recehan di sana sulit untuk beralih ke pekerjaan lain. Sehingga kawasan Ulu Masen menjadi sasaran pembalak, baik secara individual maupun secara terornanisir.

“Tidak ada lain kerjaan yang dapat kami lakukan di sini selain menebang hutan kala itu. Namun kini sudah tidak ada lagi. Karena itu kita berharap Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, tidak hanya melarang masyarakat yang hidup di kawasan hutan untuk menebang hutan, tapi berikanlah kami pekerjaan,” ujar Usman, penderes getah.

Usman mengaku, dalam melakukan aktivitasnya menders getah, suara chainsaw (mesin penebang kayu) selalu terdengar di kawasan hutan Ulu Masen. Meski dari jarak yang agak jauh. Dia mengharap, Pemerintah Aceh dapat menekan angka kemiskinan di Aceh, memberikan lapangan pekerjaan yang layak, sehingga masyarakat tidak lagi menebang kayu untuk mempertahankan hidupnya.

“Lingkungan hutan pasti dijaga masyarakat, tetapi bebaskanlah kemiskinan yang membelunggu di pundak mereka,” harap Usman.

Syamsuddin Ali, tokoh masyarakat di sana juga berharap sama. Dia meminta Pemerintah Aceh membebaskan warga dari belenggu kemiskinan yang telah berpuluh-puluh tahun hidup dalam konflik. “Kita juga berharap instansi terkait memberikan sosialisasi hutan terhadap rakyat, sehingga nantinya difahami bahwa pelestarian lingkungan amat penting,” katanya.

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: