TANGSE

21 Maret 2011

Lembah yang gemulai itu telah hancur —-  bulan mengintip malu di sela dedaunan
malam bagai teka teki tanpa mimpi —– gemuruh menghentak lelapnya elang-elang rimba
air yang turun dengan murka dari pinggang bebukitan —– adalah air mata kita yang menangisi derita tangse
negeri yang memendamkan berjuta kemakmuran—– menyimpan berbagai peristiwa
suka dan nestapa—– dalam sejarah negeri yang berlipat-lipat

Tangse negeri tua berlaksa cerita —– – ada yang aneh tak memberi jawab jelas
katanya hutan-hutan tak boleh ditebang (mereka bilang moratorium loging)
tapi yang hanyut dari punggung-punggung bukit —-  lalu melantak pemukiman dan menggilas nyawa
adalah balok-balok kayu pusaka moyang kita —–  yang sebelumnya melambai dari pundak rimba
siapa yang menebangnya ——- atas nama kelompok dan kuasa
keserakahan dan kepura-puraan —— telah memgundang bencana (seperti yang terjadi di benggga
–tetangganya-tiga puluh dua tahun lalu) —– tuhan takkan menyembunyikan dosa dan nista di mata siapa saja

kini Tangse rusak dan terasing——  tak ada lagi keelokan ngarai ——- dan jernihnya sungai dengan pualam purba
yang engkau tapaki dan saksikan —— enam belas tahun lalu ——— ya, enam balas tahun lalu
di kala langit belum mendung membumbung ——di saat petir belum mengirim kilat ke celah-celah desa

Tangse
ke mana perginya sang pengantin berinai —— bersama selimut bulan madu malam pertamanya—— tuhan berikan kekuatan agar kami ———–mampu mendudukkan kembali tangse di pelaminan waktu

Penulis adalah Barlian AW

Kolumnis dan Budayawan

Iklan
%d blogger menyukai ini: