Arsip

Archive for the ‘Konflik Satwa Liar’ Category

Sebab Terjadinya Konflik Satwa

17 Agustus 2010 Tinggalkan komentar

“AYAH ke hutan belah kayu,” jawab polos seorang bocah asal Desa Krueng Ayon, Kecamatan Sampoiniet, Aceh Jaya, awal Januari lalu. Tidak disangka anak berusia 10 tahun itu terjebak dengan sebuah pertanyaan dari kami, saat meliput di kaki rimba raya pedalaman Aceh Jaya itu. Baca selanjutnya…

Iklan

Pembukaan Lahan Picu Gajah Mengamuk

29 Oktober 2009 Tinggalkan komentar

MEULABOH | ACEHKITA.COM — Amukan gajah liar di Kecamatan Geumpang, Pidie, sulit dihentikan, karena banyak warga yang membuka kebun baru di pegunungan dan menanam tanaman muda.

Baca selanjutnya…

Gajah Liar dan Penanganannya

27 Oktober 2009 Tinggalkan komentar

By. Firman Hidayat

“Pak, kiban…kamou that di ganggu le gajah, nyoe dari masyarakat lhok guci ngon tuwi priya, jinoe mantong na gajah liar nyan di gampong, habeh lampoh kamoe. (Pak, bagaimana…kami sering sekali di ganggu oleh gajah, ini dari masyarakat Lhok Guci dan Tuwi Priya. Sekarang masih ada gajah liar itu di kampong kami..habis kebun kami). Petikan kalimat itu tersentak mengejutkan. Pesan singkat yang dikirim melalui SMS itu terkesan berteriak meminta pertolongan.

Manager Protected Area dan Monitoring FFI Aceh, Wahdi Azmi menyebutkan sejak awal Januari 2008 hingga saat ini tidak kurang dari 90 kasus konflik antara gajah dan manusia yang terjadi di Aceh. Rusaknya kebun masyarakat, terganggunya aktifitas manusia hingga jatuhnya korban jiwa akibat keganasan Po-Meurah itu kerap terjadi di Aceh.

Masih menurut Wahdi, penyebab konflik gajah liar dengan manusia itu terjadi karena hilangnya habitat gajah akibat konversi lahan atau kegiatan-kegiatan manusia yang menganggu, seperti logging dan aktifitas alat berat dalam pembangunan jalan-jalan baru. Berkaitan dengan pembukaan lahan tumpang tindihnya aktifitas perkebunan didalam habitat gajah, seperti perburuan dan pengambilan hasil hutan menjadi factor penambah exposure antara gajah liar dengan manusia.

Pilihan jenis komoditas perkebunan yang disukai gajah liar juga menjadi factor daya tarik bagi gajah untuk keluar dari habitatnya. Sehingga sangat di rekomendasikan untuk menyesuaikan pola penggunaan lahan yang sesuai untuk wilayah yang berdampingan dengan habitat gajah, seperti kopi, cengkeh, kulit manis, nilam, coklat, jeruk nipis dan berbagai jenis tanaman agroforestry. Tanaman-tanaman tersebut tidak beresiko dengan keberadaan gajah liar disekitarnya. “Tanaman itu sangat baik untuk ditumbuh-kembangkan didaerah yang rawan dengan konflik gajah”, kata Wahdi.

Manusia yang memiliki akal pikiran harus dapat menyesuaikan diri dengan beragamnya kondisi alam yang dianugerahkan oleh Allah SWT. Memaksakan satu jenis komoditas yang tidak sesuai hanya akan menuai kegagalan karena itu berarti menantang hokum alam. Gajah sebagai salah satu makhluk yang memiliki struktur social yang sangat erat, memang di kodratkan untuk hidup berkelompok. Ingatannya yang terkenal sangat kuat menjadi system penyimpanan data kolektif yang sangat baik untuk kelangsungan kelompoknya.

Sebagai peta rute migrasi gajah yang sangat luas dan dapat ditempuh dengan periode tahunan paling lengkap disimpan dalam memory sebagai individu kelompok yang sudah tua. Menangkap sebagian individu gajah didalam satu kelompok sama artinya dengan mengacaukan system penyimpanan data dan sentral navigasi untuk keseluruh kelompok. Sehingga sangat mungkin penangkapan gajah-gajah liar dapat menyebabkan sisa individu yang tersisa tidak memiliki pengetahuan komplit terhadap jalur migrasi menjadi salah arah dan membentuk jalur migrasi baru dimana kemudian meningkatkan resiko terhadap munculnya daerah konflik baru.

Perubahan jalur migrasi juga dapat disebabkan karena gangguan atau blokade jalur tradisional oleh aktifitas manusia baik perkebunan baru, pemukiman dan lain-lain. Ancaman terhadap kelestarian gajah tidak hanya konflik, perburuan. Namun penurunan kualitas genetik akibat terisolasinya populasi dalam jangka waktu lama juga dapat menjadi faktor resiko kepunahan lokal. Secara genaral ancaman konservasi gajah juga termasuk pengaturan tata guna lahan yang tidak mempertimbangkan kebutuhan habitat untuk gajah.

Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) sebagai salah satu sub species dari Gajah Asia hanya tersisa sekitar 2400 – 2800 ekor saja di sumatra. Belum lagi jumlah sebagian besar terperangkap di berbagai habitat yang terisolir dan tidak viable untuk jangka panjang. Sebagian kelompok tersebut masih hidup namun secara konservasi mereka sudah kehilangan peran dalam menjaga kelestarian species ini secara jangka panjang.

Aceh masih beruntung, karena memiliki harapan yang paling besar untuk tetap memiliki populasi gajah untuk jangka panjang karena ketersediaan habitat yang masih cukup baik dan berkesinambungan, ditambah lagi karena komitmen pemerintah daerah yang sangat tinggi untuk upaya pelestarian alam, dan tidak kalah penting hubungan historis dan tradisi masyarakat Aceh yang memuliakan satwa ini, sehingga gajah sering di sebut sebagai Pomeurah, atau Tengku Rayeuk. Otomatis hal ini menjadi mandat secara nasional bahkan global kepada Aceh sebagai tempat tersisa untuk pelestarian satwa mulia ini.

Prediksi yang didasari rekapitulasi individu dari distribusi konflik di seluruh Aceh, setidaknya memberikan gambaran bahwa hutan Aceh masih memiliki sedikitnya 600 ekor dan kapasitas hutan di Aceh masih dapat menampung jauh dari lebih besar dari angka tersebut.

Conservation Response Unit

Gajah sebagai makhluk daratan terbesar yang tersisa, tidak diragukan memiliki fungsi ekologis, serta sosial yang unik di Aceh dibandingkan satwa lainya. Kebutuhan akan habitat yang luas menjadikan gajah sebagai spesies payung dan perwakilan yang ideal bagi kepentingan pelestarian beberapa spesies kunci lain yang berbagi habitat yang sama maupun kepentingan konservasi keragaman hayati dan hutan secara lebih luas.

Keberadaan konflik antara manusia dan gajah yang terjadi hampir diseluruh Kabupaten di Aceh terutama pada daerah yang berbatasan dengan hutan membuat upaya yang terintegrasi untuk menata habitat dan mengelola populasi yang berkonflik menjadi semakin penting untuk dilakukan.

Penempatan dan pengembangan Tim Mitigasi Konflik Satwa (TMKS) dan Unit Respon Konservasi (CRU) sebagai konsep penanganan konflik manusia dengan satwa liar secara terpadu dan berorientasi jangka panjang. Semestinya meliputi semua aspek yang perlu dilakukan dalam strategi konservasi gajah di Aceh yang berorientasi kepada upaya penanganan konflik manusia dan gajah secara komprehensif.

Untuk dapat menjalankan strategi konservasi gajah di suatu kawasan pengelolaan gajah diperlukan sebuah unit manajemen yang akan menfasilitasi implementasi strategi konservasi gajah secara jangka panjang dan komprehensif di masing-masing kawasan pengelolaan gajah.

CRU adalah sebuah unit manajemen konservasi yang berbasis di lapangan tinggal bersama dengan masyarakat. Pola pendekatan melalui kegiatan CRU adalah bersama dengan Pemerintah Kabupaten melakukan assessment dan identifikasi kawasan hutan yang menjadi areal penting sebagai bufferzone yang akan memerlukan pengelolaan jangka panjang dengan jenis tanaman cocok sebagai peyangga dan cocok dilokasi tersebut dengan pola mata pencaharian masyarakat setempat.

Kegiatan CRU yang lain juga menfasilitasi program pemantauan pergerakan gajah liar dengan mengunakan radio-tracking atau pemantauan pergerakan lewat metoda lain seperti pemetaan jalur gajah, kotoran gajah dan pakan gajah. Program pendidikan dan penyadartahuan masyarakat agar dapat memahami tentang peran satwa liar dihutan alam, cara mitigasi konflik yang berkelanjutan merupakan pola pendidikan didalam CRU.