Arsip

Archive for the ‘Nestapa Korban Tsunami’ Category

Perayaan Bagi BRR, Nestapa Bagi Korban Tsunami

28 Oktober 2009 Tinggalkan komentar

Tiga Tahun Tsunami Di Calang, Kata Mereka

Laporan : Firman Hidayat di Calang

Tak terasa, musibah tsunami telah berlalu hingga tiga tahun lamanya. Berbagai kemajuan rehab-rekon tak dipungkiri memang telah terjadi. Tapi, nun jauh dari ibukota Provinsi Aceh, Banda Aceh, sebuah daerah yang cukup parah dihempas gelombang laut setinggi pohon kelapa itu masih saja menatap nestapa daerah mereka.

Calang, itulah namanya, sebagai ibukota Kabupaten Aceh Jaya dan berada di pantai Barat ujung pulau Sumatera, hampir 100 persen dari fasilitas kota itu hancur lebur akibat tsunami. Meski demikian, proses rehabilitasi dan rekonstruksi di daerah itu tergolong cukup lambat.

Ditetapkannya Kota Calang sebagai pusat peringatan tiga tahun tsunami, malah membuat masyarakatnya berujar dengan kata-kata penuh makna, hanya pihak tertentu saja yang diuntungkan setelah tiga tahun tsunami dan membuat perayaan spiritual dalam kelambu, sehingga nyamuk-nyamuk kecil menjerit dari luar kelambu.

Nyamuk kecil diibaratkan sebagai masyarakat Aceh Jaya korban tsunami yang masih menatap nestapa setelah tiga tahun tsunami. Inilah mereka, ketika berbicara tentang kehidupannya.

Tgk Husen
Nestapa Korban Tsunami

Anehnya, kenapa daerah yang tidak terkena dampak tsunami terbangun dengan cepat, sedangkan daerah yang paling parah hancur akibat tsunami malah banyak menuai masalah, secara sporadis, kata-kata itu diucapkan Husen, Pimpinan Dayah Babul Huda, seorang warga Desa Blang Dalam, Kecamatan Sampoiniet, Aceh Jaya.

Bagi dia, pembangunan di Aceh Jaya bagaikan seorang bayi yang baru bisa merangkak, artinya, pembangunan rehab dan rekon masih belum bisa dikatakan sudah berjalan sempurna. Tokoh masyarakat Sampoiniet itu mempertanyakan dana triliunan rupiah yang dikelola BRR. Jika BRR mau mendengar suara rakyat, mungkin Aceh Jaya lah pusat kosentrasi pembangunan dampak tsunami. Tapi realiasasinya jauh menyimpang, uang takziyah itu digunakan untuk seluruh Aceh. Bukan untuk daerah yang hancur akibat tsunami.

Bahkan daerah yang paling parah hancur justru diperhatikan menjelang berakhirnya tugas mereka, ujarnya penuh tanda tanya. Menurut dia, masyarakat Aceh Jaya hanya menikmati hasil terkecil dari realisasi program BRR.

Husen memaparkan buruknya kinerja BRR tahun 2005 dan tahun 2006 lalu di Aceh Jaya, misalnya pembangunan tanggul laut di Desa Lhokruet yang kini kondisinya sangat memprihatinkan, pengadaan palong atau bagan apung yang dibuat asal-asalan. Bagan apung itu ditolak warga dan akhirnya dibuang di Desa Kuala, Kecamatan Jaya oleh kontraktornya.

Selain itu, masih banyak lagi bantuan BRR di Aceh Jaya pada tahun-tahun lalu tanpa ada penyelesaian hukum. Pelakunya bebas bergentanyangan untuk memperoleh proyek-proyek lain. Tiga tahun tsunami di Aceh Jaya adalah peringatan bagi BRR dan nestapa korban tsunami, itulah yang sebenarnya,demikian Tgk Husen. (firman)

Jumaidi SAg
Penipuan Terhadap Rakyat

Saya berbicara atas nama fakta yang jelas-jelas terlihat dan terpampang diberbagai sudut kehidupan rakyat yang semakin sengsara dan menderita. Keterpurukan semakin dirasakan oleh masyarakat Aceh Jaya yang sudah tiga tahun tsunami, akibat minimnya perhatian, kata Jumaidi.

Setelah tiga tahun, Junaidi menyebut, keberhasilan terbesar pemerintah, BRR, NGO dan semua pihak yang berbicara kemanusiaan adalah telah berhasil menipu rakyat korban tsunami. Bisa dikatakan baru 20 persen Kota Calang terbangun. Selebihnya fiktif yang memang direka-reka, sebut dia. Pembangunan yang dilakukan BRR dan lembaga donor pun dinilai sama sekali belum dirasakan oleh masyarakat. BRR malah dianggap sengaja memperlambat pembangunan. Alasannya, hingga hari ini BRR masih melakukan pendataan, verifikasi dan klasifikasi. Hanya itu-itu saja yang dilakukan BRR.

Padahal rakyat ingin langkah nyata dalam pembangunan, ujar dia. Dia tak bisa membayangkan berapa besar gaji yang diberikan BRR kepada pekerjanya, tapi tak sesuai dengan hasil yang diharapkan. “Berbuatlah sesuai dengan yang diinginkan rakyat, harap dia. (firman)

T. Asrizal
Ada Rumah Terbengkalai

Semua mengharapkan percepatan pembangunan rumah untuk korban tsunami, tapi setelah rumah siap dibangun, tak juga kunjung dihuni. Tiga tahun tsunami ini seharusnya tim pemantau diturunkan agar dana yang jumlahnya sangat besar untuk pembangunan itu tidak disia-siakan, kata Direktur Eksekutif Mataradja, T. Asrizal.

Putera Lageun ini memberikan paparannya soal bantuan rumah yang masih banyak terbengkalai dan tak bertuan. Menurut dia, inilah salah satu catatan penting tiga tahun tsunami di Aceh Jaya. Asrizal menyebutkan lokasi berbeda-beda, ada rumah yang dibangun diatas gunung, dipinggir laut, dan di atas rawa-rawa. Disepanjang jalan Lamno – Calang, rumah-rumah tak berpenghuni dan terbengkalai itu terlihat jelas berjejer.

Beberapa hal yang menyebabkan rumah-rumah itu terbengkalai, seperti buruknya kinerja kontraktor yang tidak punya modal dan bilapun punya modal diolah ke proyek lain. Kontraktor yang tidak bertanggung jawab sudah seharusnya ditindak tegas, ujar dia. Menyangkut dengan bantuan rumah yang sudah siap tapi tak dihuni juga ada beberapa sebab, salah satunya adalah, rumah bantuan itu diberikan kepada orang yang tidak berhak, kemudian kepada janda dan duda yang kawin setelah rumah selesai dibangun, lalu kepada orang-orang yang tidak berada di tempat dan anak-anak yatim yang masih sekolah.

BRR harus mempercepat pembangunan rumah berkualitas dan diberikan kepada orang-orang yang benar-benar berhak menerimanya, ingat dia. (firman)

Darwin Ismail
Tak Ada Transparansi

Bagi Sekjen Forum Masyarakat Aceh Jaya (Formaja) ini, bicara pembangunan memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, butuh proses dan kinerja baik. Tiga tahun tsunami hari diharapkannya dapat menjadi catatan penting bagi pemerintah, BRR dan semua pihak yang berkecimpung dalam melanjutkan pembangunan di Aceh. Tapi anehnya, kini Aceh Jaya malah dijadikan tumbal buruknya hasil pembangunan.
Seharusnya pembangunan rumah di Calang menjadi program percontohan terbaik dari BRR selaku pemegang kapasitas pembangunan rumah di Kota Calang,  kata dia.

Tapi, justru bukan hal terbaik yang diberikan, hanya sibuk memperdebatkan masalah. Di Desa Dayah Baroh, contohnya, belum ada satupun rumah bantuan dari BRR yang siap huni, kecuali dari bantuan Palang Merah Jerman. Itu lantaran para buruh tidak diperhatikan, sehingga banyak yang angkat kaki. Baru  baru ini saja, ada sekitar 40 buruh bangunan rumah BRR di Desa Dayah Baroh pulang kampong, karena upah tidak dibayar oleh kontraktor PT Tabina selaku pelaksana proyek, sebut dia.

Persoalan lainnya adalah penegakan hukum yang tidak transparan. Akibatnya setiap persoalan yang timbul dalam proses rehab dan rekon tidak diselesaikan oleh penegak hukum. Banyak kasus, seperti proyek-proyek yang tidak sesuai Kepres. Akibatnya, birokrasi dan manajemen proyek amburadul dan tidak tepat sasaran sehingga banyak proyek yang dibangun tidak sesuai dengan bestek dan bermasalah.

Kasus lainnya, penelantaran buruh rumah di Desa Dayah Baroh, hilangnya beberapa unit rumah yang dialokasikan di Desa Sentosa pada tahun 2006, hingga realisasi boat bantuan Mensos RI tahun 2005 – 2006 lalu diduga sudah dipeti eskan, demikian Darwin Ismail. (firman)

Muslim Hasan
Prioritaskan Infrastruktur

Muslim sedang duduk termenung saat dihampir, katanya dia lagi merenungi nasib Kota Calang yang katanya apabila musim hujan banjir dimana – mana, kondisi jalan berlobang dan berlumpur, pondasi jembatan pun terkuras kekuatannya, bangunan kantor pemerintah terbengkalai, bahkan rumah-rumah hantu pun mulai bergentayangan.

Warga Desa Sentosa, Calang ini prihatin BRR dan lembaga donor tidak memprioritaskan pembangunan infrastruktur di daerah itu. Kalau jalan cepat dibangun, maka semua akses terhadap pembangunan lainnya akan mudah terealisasikan, sehingga proses pembangunan dapat berjalan sempurna dan tidak menuai banyak masalah, kata Ketua Asosiasi Pedagang Ikan (API) ini.

Kenyataan bagianya adalah melihat kondisi Aceh Jaya sekarang tidak sebanding dengan besarnya uang yang terbuang. Kenyataannya, lebih besar uang yang terbuang daripada pembangunan, ujar dia lirih. Sungguh memalukan, ketika segelintir orang memetik kesenangan dan kekayaan diatas penderitaan korban tsunami. Bahkan tak tanggung-tanggung Aceh sudah dianggap daerah petro dollar, sehingga berbondong-bondong orang mengadu nasibnya ke Aceh, tapi pembangunan masih berjalan sangat lambat. Percepat pembangunan, bukan cuma pendataan semata, harap dia. Peringatan tiga tahun tsunami di Aceh Jaya harus mampu menyadarkan semua pihak untuk melihat Aceh Jaya secara adil.

Kedepan pembangunan infrastruktur perlu dipriotitaskan, jalan dan jembatan harus disegerakan, kantor pemerintahan dipercepat pembangunannya, dan rumah-rumah hantu yang terbengkalai dan tak berpenghuni segera diselesaikan. (firman)

http://www.rakyataceh.com/index.php?open=view&newsid=3790

Iklan